Jumat, 06 Agustus 2010

cerita sedih | Kisah Sedih Korban Topan Nargis Burma.


Setelah hampir tiga minggu Badai Nargis melanda Burma, jumlah korban meninggal mencapai lebih dari 100 ribu orang.

Namun, junta militer masih tak mengizinkan bantuan internasional masuk ke negeri itu.

Alhasil, ribuan warga lainnya kekurangan gizi dan menderita penyakit.
Bila bantuan tak segera datang, mereka akan meninggal.
Kini para jenderal telah mengizinkan beberapa negara tetangganya di Asia untuk mengawasi distribusi bantuan asing.

Selain itu, memperbolehkan Badan Pangan Dunia (WFP) menerbangkan sembilan helikopter ke sana.

Namun, karena bencana ini tergolong sangat besar dan rumit, bantuan itu tidak cukup.

Koresponden kami, King Kong Janoi, melaporkan dari beberapa daerah di Burma yang dilanda bencana topan itu.

Laporannya dibacakan oleh Vivi Zapkie.

Mayat anak kecil yang sudah membusuk mengapung di atas sungai. Ada ratusan mayat dan bangkai membusuk di berbagai sungai dan ladang. Tapi tidak ada yang datang dan mengubur mereka.
Anak-anak mengemis untuk  makanan. Sementara, di beberapa jalan yang saya lewati, orang dewasa, anak kecil, dan orang yang sudah lanjut usia juga terpaksa meminta makanan supaya bisa bertahan hidup. Mereka kini menggelandang dan tak punya apa-apa lagi, kecuali pakaian rusak yang mereka kenakan.
Hujan masih turun di kota Labutta, daerah yang paling parah dilanda topan. Kerumunan korban yang selamat, mencoba berlindung di bawah atap plastik bantuan. Salah satunya adalah Daw Than Htwe, 40 tahun. Dia memandang saya dengan tatapan yang lelah dan mengatakan tidak bisa tidur di malam hari.
“Di sini dingin sekali apalagi kalau hujan turun malam hari. Atap plastik ini tidak mampu melindungi kami. Tapi kami tidak punya tempat tinggal yang lain. Saya memakai pakaian yang tersisa dari bencana topan. Kami punya mie instant dan sedikit beras yang kami simpan dalam botol dan kami taruh di atas lantai. Tapi itu sama sekali tidak cukup.“
Pemerintah militer telah membuat gubuk plastik bagi para korban badai. Sekitar seribu keluarga berlindung di stadion sepakbola Labutta dan menerima bantuan dari militer. Namun, para warga mengeluh, bantuan itu hanya pura-pura saja, supaya militer kelihatan membantu masyarakat. Padahal korban selamat yang jumlahnya mencapai sepuluh kali lebih banyak ketimbang di tempat itu, masih belum mendapatkan pertolongan. Mereka terpaksa berteduh di kuil yang sudah hancur, dekat berbagai pagoda dan sekolah. Mereka bertahan hidup dengan makanan yang telah diberikan oleh para donor lokal.
Nasi dibagikan, tapi tetap tidak cukup untuk semua korban. Banyak yang harus ditolak dan mereka terpaksa makan apa saja untuk bertahan hidup. Situasi di luar kota lebih parah dan pendistribusian bantuan sulit dilakukan. U Maung di desa Kawlamu mengatakan warga setempat kelaparan.
“Kami tidak punya air minum. Karena banyak bangkai dan mayat yang membusuk. Kondisinya sangat parah. Tapi kami tidak punya pilihan lain kecuali meminum air itu. Pelayanan kesehatan juga tidak ada. Kalau militer mengatakan mereka mempedulikan rakyat, itu hanya pura-pura saja.“
Ko htoo dari ibukuta Ranggon bekerjasama dengan teman-temannya untuk memberikan bantuan kepada para korban.
“Kami mencoba melakukan apa saja yang kami bisa lakukan. Kami tidak menyalahkan siapa-siapa yang tidak datang membantu. Kami tahu rakyat menderita, jadi kami datang ke sini untuk membantu mereka.”
Bantuan perorangan seperti inilah yang membantu sebagian masyarakat untuk bertahan hidup. Tapi bantuan ini berjangka pendak dan dan masih kurang layak. Ko Soe Myet, donor lokal lainnya mengatakan para korban sangat membutuhkan bantuan psikologis.
“Para korban yang selamat sudah mati rasa. Tidak ada udara segar karena bangkai dan mayat bergelimpangan di mana-mana di sepanjang jalan. Selain itu banyak mayat yang belum diidentifikasi.”
Daw Than Htwe, 40 tahun, mengatakan kalau ia tetap tinggal di desanya ia bakal mati.
“Kami datang ke kota untuk mencari bantuan. Selama dua hari perjalanaan, kami tidak makan apa-apa. Kami hanya minum air kelapa di hutan. Yang paling menderita adalah anak-anak.“
Dia bertutur pasukan militer tak berbuat apa-apa di desanya yang terletak dekat Labutta. Kelompok lainnya yang menempuh perjalanan itu mengatakan pada saya, belum makan selama lima hari setelah badai menerpa.
Kata Daw Than, sebagian besar bantuan diberikan untuk pangkalan militer dekat desanya.
“Di sini ada pangkalan militer. Saya meninggalkan beberapa anak saya di sana. Saya hanya mmberikan mereka sedikit beras yang saya simpan dalam sebotol beras setelah saya membayar pasukan militer. Anak-anak saya ingin ikut ke sini tapi tidak ada orang yang bisa membawa mereka.”
Banyak anak yang menjadi yatim piatu akibat bencana ini dan mereka tidak punya tempat tinggal. U Myet Tun, warga setempat, mengungkap rasa frustrasinya atas tidak tanggapnya aparat dalam bencana ini.
“Aparat tidak perduli dengan para korban. Mereka tidak membantu, tapi malah mengabaikannya. Kenapa mereka tidak membiarkan negara lain masuk ke sini supaya mereka bisa membantu kami? Biarlah bantuan asing masuk, mereka seharusnya tidak keras kepala dan bodoh. Karena ini untuk kepentingan rakyat.”
Di Burma, 1,5 juta orang telah kehilangan tempat tinggal mereka dan kini mereka masih menunggu bantuan. sumber:annasrei.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar