Kamis, 04 Maret 2010
Panas Badan Sampai Gosong.lucu???
John punya teman satu kost dari Nigeria. Satu waktu teman saya ini sakit suhu badannya sangat tinggi mencapai 39,5 derajat celcius dan minta diantarkan kedokter.
Dokter : "Silakan duduk siapa yang sakit."
John : "Ini pak dokter teman saya sakit."
Dokter : "Sakit apa?"
John : "Gak tahu tapi badannya panas..."
Dokter : (Sambil meraba jidad teman saya dokter itu melihat kearah saya dengan mimik wajah marah)
John : "Ada apa, Dokter?" (bingung)
Dokter : "Kamu ini bagaimana punya teman badannya panas nanti sudah gosong begini baru bawah ke dokter?!!!"
Aku : (sambil tertawa) "Pak dokter dia ini sudah dari sononya gosong bukan karena panas badannya..."
Dokter : "Ooohhhh..." annasrei484@mail.com
Dokter : "Silakan duduk siapa yang sakit."
John : "Ini pak dokter teman saya sakit."
Dokter : "Sakit apa?"
John : "Gak tahu tapi badannya panas..."
Dokter : (Sambil meraba jidad teman saya dokter itu melihat kearah saya dengan mimik wajah marah)
John : "Ada apa, Dokter?" (bingung)
Dokter : "Kamu ini bagaimana punya teman badannya panas nanti sudah gosong begini baru bawah ke dokter?!!!"
Aku : (sambil tertawa) "Pak dokter dia ini sudah dari sononya gosong bukan karena panas badannya..."
Dokter : "Ooohhhh..." annasrei484@mail.com
Gadis Cantik Menjadi Seperti Apa.lucu???
Dua orang pengusaha muda sedang berbincang bincang di suatu bar. Pengusaha pertama berkata pada rekannya, "Lihatlah gadis muda di ujung sana. Dia benar benar sempurna."
Rekan yang ada di sampingnya melihat sang gadis yang dimaksud dan membenarkannya. Pengusaha itu berkata lagi, "Tubuhnya benar benar sempurna. Tubuh Jennifer Love Hewitt. Lihat bibirnya yang merekah seperti bibir Angelina Jolie. Atau dadanya yang bagus seperti dada Mena Suvari di film American Beauty. Sempurna.
Aku membayangkan bila dia tidak mempunyai tubuh, bibir atau dada seperti itu. Dia akan seperti apa ya?"
Rekannya itu nampak berpikir-pikir sebentar lalu menjawab, "Aku tahu!"
Pengusaha muda itu menoleh pada temannya dan berkata lagi, "benarkah? Seperti apa menurutmu?"
Rekannya menjawab dengan nada lesu, "Seperti istriku" annasrei484@mail.com
Rekan yang ada di sampingnya melihat sang gadis yang dimaksud dan membenarkannya. Pengusaha itu berkata lagi, "Tubuhnya benar benar sempurna. Tubuh Jennifer Love Hewitt. Lihat bibirnya yang merekah seperti bibir Angelina Jolie. Atau dadanya yang bagus seperti dada Mena Suvari di film American Beauty. Sempurna.
Aku membayangkan bila dia tidak mempunyai tubuh, bibir atau dada seperti itu. Dia akan seperti apa ya?"
Rekannya itu nampak berpikir-pikir sebentar lalu menjawab, "Aku tahu!"
Pengusaha muda itu menoleh pada temannya dan berkata lagi, "benarkah? Seperti apa menurutmu?"
Rekannya menjawab dengan nada lesu, "Seperti istriku" annasrei484@mail.com
Mencukur Anak Gondrong.lucu???
Seorang pria berjalan memasuki tempat cukur rambut yang banyak pengunjungnya, sambil menggandeng seorang anak laki-laki berambut gondrong. Si tukang cukur mendudukkan anak itu disatu-satunya kursi yang masih kosong dan mulai memotong rambut anak itu.
Belum berapa lama, pria tadi menggeliat, menguap dan berkata, "Aku hendak keluar mencari udara segar."
Tidak lama kemudian, si tukang cukur telah selesai memotong rambut si anak tadi dan sambil menyikat sisa-sisa rambut di baju lusuh anak itu, si tukang cukur itu menyindir dengan sinis.
"Aku harap ayahmu tidak melupakanmu di sini."
"Oh, dia sih bukan ayahku."
"Bukan ayahmu? Lalu dia itu siapa?"
"Nggak tahu," jawab anak itu. "Pria itu berjalan mendekatiku ketika aku sedang bermain dengan teman-teman dan dia tanya, apakah saya mau potong rambut gratis." annasrei484@mail.com
Belum berapa lama, pria tadi menggeliat, menguap dan berkata, "Aku hendak keluar mencari udara segar."
Tidak lama kemudian, si tukang cukur telah selesai memotong rambut si anak tadi dan sambil menyikat sisa-sisa rambut di baju lusuh anak itu, si tukang cukur itu menyindir dengan sinis.
"Aku harap ayahmu tidak melupakanmu di sini."
"Oh, dia sih bukan ayahku."
"Bukan ayahmu? Lalu dia itu siapa?"
"Nggak tahu," jawab anak itu. "Pria itu berjalan mendekatiku ketika aku sedang bermain dengan teman-teman dan dia tanya, apakah saya mau potong rambut gratis." annasrei484@mail.com
Berita Baik dan Buruk untuk Direktur.lucu
Alkisah, setelah menjalani cuti panjang Pak Direktur kembali kerja. Di hari pertamanya dia langsung menadapat laporan dari sekretarisnya.
"Pak Direktur", begitulah sambutan hangat sekretarisnya, "Ada dua berita untuk Bapak, yang satu buruk dan yang satu baik."
"Mulailah dengan berita yang buruk itu ".
"Maaf Pak, sejak dua minggu yang lalu, Bapak bukan direktur lagi"
"Dan yang baik?"
"Kita akan punya anak..." annasrei484@mail.com
"Pak Direktur", begitulah sambutan hangat sekretarisnya, "Ada dua berita untuk Bapak, yang satu buruk dan yang satu baik."
"Mulailah dengan berita yang buruk itu ".
"Maaf Pak, sejak dua minggu yang lalu, Bapak bukan direktur lagi"
"Dan yang baik?"
"Kita akan punya anak..." annasrei484@mail.com
Rabu, 03 Maret 2010
kisah sedih anak mencoret mobil ayahnya.
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya� karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. . Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, �Kerjaan siapa ini !!!� �. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan � Saya tidak
tahu..tuan.� �Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?� hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata �DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik � kan !� katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa� Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan
anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. �Oleskan obat saja!� jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. �Dita demam, Bu��jawab pembantunya ringkas. �Kasih minum panadol aja ,� jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. �Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap� kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius.
Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. �Tidak ada pilihan..� kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut��Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah� kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. �Ayah.. ibu� Dita tidak akan melakukannya lagi�. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi� Dita sayang ayah.. sayang ibu.�, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. �Dita juga sayang Mbok Narti..� katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
�Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?� Bagaimana Dita mau bermain nanti?� Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, � katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf�
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi�, Namun�., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Renungan:
1. setelah membaca cerita ini...mengajak kita semua untuk lebih berpikir sebelum melakukan sesuatu...karena kita tidak tau apa yang bakal terjadi oleh kelakuan kita sendiri...^^
2. jangan mengajari anak dengan tangann,,,cukup dengan mulutt saja..itu lebih baee(bukan karena seperti cerita diatas),,tapi moralnya nanti setelah besar akan berbeda dengan anak yg di ajar dengan kasih sayang
3. coba anda pikir kalo melarang orang dengan kekerasannn,,seseorang akan membalas kekerasan pada apa yg dilarang kepada orang laen juga..
annasrei484@gmail.com
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya� karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. . Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, �Kerjaan siapa ini !!!� �. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan � Saya tidak
tahu..tuan.� �Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?� hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata �DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik � kan !� katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa� Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan
anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. �Oleskan obat saja!� jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. �Dita demam, Bu��jawab pembantunya ringkas. �Kasih minum panadol aja ,� jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. �Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap� kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius.
Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. �Tidak ada pilihan..� kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut��Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah� kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. �Ayah.. ibu� Dita tidak akan melakukannya lagi�. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi� Dita sayang ayah.. sayang ibu.�, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. �Dita juga sayang Mbok Narti..� katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
�Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?� Bagaimana Dita mau bermain nanti?� Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, � katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf�
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi�, Namun�., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Renungan:
1. setelah membaca cerita ini...mengajak kita semua untuk lebih berpikir sebelum melakukan sesuatu...karena kita tidak tau apa yang bakal terjadi oleh kelakuan kita sendiri...^^
2. jangan mengajari anak dengan tangann,,,cukup dengan mulutt saja..itu lebih baee(bukan karena seperti cerita diatas),,tapi moralnya nanti setelah besar akan berbeda dengan anak yg di ajar dengan kasih sayang
3. coba anda pikir kalo melarang orang dengan kekerasannn,,seseorang akan membalas kekerasan pada apa yg dilarang kepada orang laen juga..
annasrei484@gmail.com
Cerita Hidup.
Idealisme….
Apa ini yang dinamakan idealisme mahasiswa? Aku masih tertegun dalam penyesalan. Sudah hampir menginjak tahun kelima namun nilai-nilaiku tidak terlalu baik. Kali ini aku benar-benar merasa bersalah dalam membuat prinsip dan jalan hidup.
Padahal kedua orang tuaku tak mendapatkan kemudahan dalam menyekolahkan diriku hingga ke jenjang perguruan tinggi. Aku telah memikirkan berbagai alasan mengapa hidupku seperti ini. Pada mulanya kuduga bahwa aku telah salah jurusan. Tapi mengapa baru kusadari?
Mengapa aku tidak pindah saja saat menginjak tahun pertama dan kedua di kampus? Jelas hal tersebut tidak dapat kujadikan sebuah alasan. Lalu ada hal lain yaitu karena kurangnya perhatian orang tua. Tidak! Kedua orang tuaku telah membanting tulang, meminjam uang, berutang sana sini demi mencukupi kebutuhanku serta selalu mengirimkan uang kepadaku.
Sungguh teganya diriku jika sampai menyalahkan kedua orang tua hanya karena kelalaianku. Tidak ada yang dapat kusalahkan kecuali diriku sendiri. Aku telah menyia-nyiakan waktuku sampai hari ini. Aku telah melupakan kewajibanku sebenarnya yaitu menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.
“Kamu sibuk apa sih?” tanya Erwin suatu saat ketika menemuiku. Aku terkejut sekali dan spontan saja langsung menyunggingkan senyum kepada temanku itu. Aku tak mau masalah pribadiku diketahui oleh siapapun. “Erwin… biasa aja.” “Kamu konsentrasi dulu ke kuliah dulu, jangan sibuk dengan kegiatan yang lain.
Prioritaskan dulu kuliahmu! Ingat kan waktu dulu kamu juga yang telah memotivasiku. Alhamdulillah, berkat perhatian dan saranmu, aku jadi bersemangat. Tapi sekarang, aku turut prihatin dengan kondisimu. kenapa kamu bisa jadi seperti ini? Dosen-dosen banyak yang membicarakanmu!” Nasihat Erwin yang menusuk hati dan perasaanku.
Erwin adalah teman satu angkatan yang sejak dulu sangat akrab denganku, kini sedang menekuni skripsinya. Di tahun pertama, Erwin yang aku kenal tidaklah seperti saat ini. Erwin dulu tampak kuper, pendiam, dan kolot. Namun aku melihat ada bakat dan potensi kepemimpinan dari dalam dirinya. Lalu kuajak dia mengikuti berbagai kegiatan kampus, dia pun merespon dengan baik.
Tak lupa juga kuingatkan padanya agar tidak mengesampingkan kuliah dan tidak hanya mementingkan organisasi. Hingga tahun ketiga kami berdua menjadi aktivis di kampus. Karena jiwa ‘leadership’-nya, Erwin selalu menjadi ketua di organisasi yang kami ikuti sedangkan aku hanya berperan sebagai staf saja. Kami bersama-sama menjadi pengurus di HMJ dan BEM Fakultas.
Kami sangat dekat seperti saudara sendiri. Kami juga sering turun aksi ke jalan, berorasi di depan gedung walikota, DPRD, kantor gubernur, dan sebagainya. Kami juga bersama-sama mengkritisi kebijakan birokrat kampus, menjalankan roda organisasi, menghimpun teman-teman di kampus, menyemarakkan politik kampus, menyusun strategi memenangkan ‘pemirama’ kampus, meng-ospek mahasiswa baru, menjalankan alur kaderisasi organisasi.
Tetapi nama Erwin lebih gemilang dan memukau daripada namaku. Walaupun menjadi aktivis kampus, prestasiakademisnya sungguh cemerlang. Mulai dari menjadi mahasiswa berprestasi tingkat fakultas dan universitas, juara nasional lomba karya tulis ilmiah, berulang kali keluar daerah mengikuti kejuaraan tingkat nasional, mendapatkan beasiswa, terpilih menjadi duta pertukaran pemuda ke luar negeri Hingga kini yang kutahu nilainya sangat memuaskan (IPK 3,8).
Bertolak belakang pada diriku, teman-teman dan dosen hanya menjadikan diriku sebagai contoh pribadi yang tidak boleh ditiru. Aktif organisasi tetapi tidak mementingkan kuliah. Baik di belakangku ataupun kudengar langsung pada saat mengulang mata kuliah, dosen-dosen banyak yang menyinggungku. Namun aku merasa tidak pantas dan tidak ada alasan untuk marah.
Mungkin menurut mereka, penilaian tersebut yang sungguh obyektif. Semoga saja sifat diriku ini dapat menjadi pelajaran bagi yang lain untuk tidak mengikutinya. Suatu ketika saat kami melakukan aksi damai di depan kantor gubernur, namun secara tiba-tiba saja kondisi menjadi ricuh yang disebabkan oleh adanya provokator yang ikut dalam rombongan kami.
Dorong-mendorong dengan pihak aparat pun tak bisa dihindari. Akhirnya, aparat mulai bertindak anarkis kepada kami. Salah satu rekan kami terjatuh dan dihadiahi bogem mentah aparat. Rekan-rekan yang lain merasa tidak terima dengan perlakuan petugas dan langsung memukul aparat yang menganiayanya. Aparat lain pun turun tangan menyerang dan memukul mahasiswa dengan tongkat, pentungan, menendang membabi buta. Kami yang tidak berbekal senjata menjadi bulan-bulanan aparat. Kami berhamburan dan membubarkan diri.
Kulihat dari jauh, Erwin terjatuh karena ditendang salah satu aparat. Aku langsung berlari ke arahnya dan mendorong polisi itu hingga terjatuh. Aku tidak mau sahabatku disakiti. Namun dari belakang kurasakan hantaman sepatu dinas lapangan polisi menumbangkan tubuhku. Polisi yang lain pun datang dan mengeroyokku. Aku hanya bisa meringis kesakitan. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan padaku, tapi setelah itu aku tidak bisa bergerak. Sebagian tubuhku memar. Tapi itu kurasakan lebih baik daripada sahabatku sendiri disakiti.
Sungguh, Aku sangat bangga pernah menjadi bagian dari diri Erwin. Kami juga dulu mempunyai idealisme yang sama yaitu “Prestasi dan Organisasi”. Namun dirikulah yang mungkin gagal dan menjadi korban dalam membangun idealisme itu. Aku tidak dapat membangun keseimbangan antara dua hal, yaitu kuliah dan organisasi. Walaupun terselip niat untuk memperbaiki diri, tapi tetap saja sulit untuk kulakukan. Banyak orang yang telah kukhianati terutama orang tua. Mereka banyak menaruh asa pada diriku, namun sebaliknya aku yang menghapus harapan besar orang tuaku.
Sebuah nasihat berarti dari orang tuaku dulu sebelum melepas diriku kuliah di kota bahwa sesibuk apapun jangan meninggalkan shalat dan membaca Al Qur’an. Kujalankan amanah itu baik-baik. Sepadat apapun jadwal kuliah ataupun organisasi aku tidak pernah meninggalkan kewajiban itu. Mungkin hal itu yang membuat diriku kuat dan tegar dalam mengarungi hidup ini. Terlebih, hal itu juga membuat diriku untuk belajar ikhlas menerima keadaan. Aku juga semakin yakin ada rekayasa Allah dalam hidupku.
Walaupun orang lain mengecap diriku sebagai orang yang gagal, tetapi dengan rasa ikhlas dan selalu berjuang dalam hidup aku bisa lebih bersabar. Namun kusadari pula bahwa Islam mengajarkan pentingnya menuntut ilmu! Aku juga tidak mau memisahkan antara agama dan hal-hal lain dalam hidup, semua saling berkaitan.
Mulai tahun keempat ini aku aktif di sebuah LSM yang mengurus tentang pemberdayaan anak jalanan. Tidak ada teman-teman kampus yang tahu bahwa aku mengikuti ini. Banyak hal yang dapat kuambil pelajaran di sini, yaitu masih banyak sekali anak-anak yang tidak seberuntung diriku. Aku merasa iba karena pada saat teman-teman seumur mereka seharusnya menuntut ilmu dan bersekolah, mereka malah mengemis di jalan-jalan. Alhamdulillah sebagian besar anak-anak jalanan itu telah bersekolah dan siap merenda masa depan yang lebih cerah dengan mengenyam pendidikan.
Tampak wajah mereka yang ceria saat ada dermawan yang bersedia membiayakannya sekolah. Mereka pun senantiasa mendoakanku agar sukses. Aku sangat dekat dengan anak-anak jalanan itu. Aku juga sering bercanda dan bersenda gurau serta menumbuhkan semangat belajar bagi mereka Honorku yang tidaklah seberapa dari mengajar les privat, kusisihkan untuk mereka.. Di sela-sela waktu kuliah kosong aku menyempatkan mengajar mereka dasar-dasar membaca dan menulis. Kelasku pun tidak pernah sepi. Pernah ada 70 orang anak jalanan yang mengikuti kelas informal yang kurintis dengan inisiatif pribadi.
Selain mengajarkan membaca dan menulis, aku juga intensif mengajarkan shalat dan mengaji pada mereka. Selain duniawi, urusan akhirat harus kita utamakan! Aku juga mengingatkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Waktu tak pernah berulang, sedikit saja kita menyiakannya, maka kita termasuk orang-orang yang merugi.
Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan Ambillah waktu untuk bermain itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan Ambillah waktu unuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju surga.
Terkadang, aku tak dapat menahan air mata ketika melihat semangat belajar mereka yang luar biasa. Lucunya, mereka lebih memilih belajar bersamaku daripada sekolah formal. Mereka juga banyak yang menangis ketika harus berpisah denganku ketika dijemput oleh orang tua asuhnya. Yah, walaupun tidak mendapat gaji dan bayaran, tapi aku merasa senang bisa sedikit meringankan beban mereka Wajah-wajah polos tanpa beban tetapi penuh dengan antusias dan keinginan untuk lebih baik. “Bang Milu, semoga Allah membalas segala ketulusan abang!” kata salah satu dari mereka ketika dijemput oleh orang tua asuhnya.
Penulis : himi arsad@yahoo.com
annasrei484@gmail.com
Apa ini yang dinamakan idealisme mahasiswa? Aku masih tertegun dalam penyesalan. Sudah hampir menginjak tahun kelima namun nilai-nilaiku tidak terlalu baik. Kali ini aku benar-benar merasa bersalah dalam membuat prinsip dan jalan hidup.
Padahal kedua orang tuaku tak mendapatkan kemudahan dalam menyekolahkan diriku hingga ke jenjang perguruan tinggi. Aku telah memikirkan berbagai alasan mengapa hidupku seperti ini. Pada mulanya kuduga bahwa aku telah salah jurusan. Tapi mengapa baru kusadari?
Mengapa aku tidak pindah saja saat menginjak tahun pertama dan kedua di kampus? Jelas hal tersebut tidak dapat kujadikan sebuah alasan. Lalu ada hal lain yaitu karena kurangnya perhatian orang tua. Tidak! Kedua orang tuaku telah membanting tulang, meminjam uang, berutang sana sini demi mencukupi kebutuhanku serta selalu mengirimkan uang kepadaku.
Sungguh teganya diriku jika sampai menyalahkan kedua orang tua hanya karena kelalaianku. Tidak ada yang dapat kusalahkan kecuali diriku sendiri. Aku telah menyia-nyiakan waktuku sampai hari ini. Aku telah melupakan kewajibanku sebenarnya yaitu menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.
“Kamu sibuk apa sih?” tanya Erwin suatu saat ketika menemuiku. Aku terkejut sekali dan spontan saja langsung menyunggingkan senyum kepada temanku itu. Aku tak mau masalah pribadiku diketahui oleh siapapun. “Erwin… biasa aja.” “Kamu konsentrasi dulu ke kuliah dulu, jangan sibuk dengan kegiatan yang lain.
Prioritaskan dulu kuliahmu! Ingat kan waktu dulu kamu juga yang telah memotivasiku. Alhamdulillah, berkat perhatian dan saranmu, aku jadi bersemangat. Tapi sekarang, aku turut prihatin dengan kondisimu. kenapa kamu bisa jadi seperti ini? Dosen-dosen banyak yang membicarakanmu!” Nasihat Erwin yang menusuk hati dan perasaanku.
Erwin adalah teman satu angkatan yang sejak dulu sangat akrab denganku, kini sedang menekuni skripsinya. Di tahun pertama, Erwin yang aku kenal tidaklah seperti saat ini. Erwin dulu tampak kuper, pendiam, dan kolot. Namun aku melihat ada bakat dan potensi kepemimpinan dari dalam dirinya. Lalu kuajak dia mengikuti berbagai kegiatan kampus, dia pun merespon dengan baik.
Tak lupa juga kuingatkan padanya agar tidak mengesampingkan kuliah dan tidak hanya mementingkan organisasi. Hingga tahun ketiga kami berdua menjadi aktivis di kampus. Karena jiwa ‘leadership’-nya, Erwin selalu menjadi ketua di organisasi yang kami ikuti sedangkan aku hanya berperan sebagai staf saja. Kami bersama-sama menjadi pengurus di HMJ dan BEM Fakultas.
Kami sangat dekat seperti saudara sendiri. Kami juga sering turun aksi ke jalan, berorasi di depan gedung walikota, DPRD, kantor gubernur, dan sebagainya. Kami juga bersama-sama mengkritisi kebijakan birokrat kampus, menjalankan roda organisasi, menghimpun teman-teman di kampus, menyemarakkan politik kampus, menyusun strategi memenangkan ‘pemirama’ kampus, meng-ospek mahasiswa baru, menjalankan alur kaderisasi organisasi.
Tetapi nama Erwin lebih gemilang dan memukau daripada namaku. Walaupun menjadi aktivis kampus, prestasiakademisnya sungguh cemerlang. Mulai dari menjadi mahasiswa berprestasi tingkat fakultas dan universitas, juara nasional lomba karya tulis ilmiah, berulang kali keluar daerah mengikuti kejuaraan tingkat nasional, mendapatkan beasiswa, terpilih menjadi duta pertukaran pemuda ke luar negeri Hingga kini yang kutahu nilainya sangat memuaskan (IPK 3,8).
Bertolak belakang pada diriku, teman-teman dan dosen hanya menjadikan diriku sebagai contoh pribadi yang tidak boleh ditiru. Aktif organisasi tetapi tidak mementingkan kuliah. Baik di belakangku ataupun kudengar langsung pada saat mengulang mata kuliah, dosen-dosen banyak yang menyinggungku. Namun aku merasa tidak pantas dan tidak ada alasan untuk marah.
Mungkin menurut mereka, penilaian tersebut yang sungguh obyektif. Semoga saja sifat diriku ini dapat menjadi pelajaran bagi yang lain untuk tidak mengikutinya. Suatu ketika saat kami melakukan aksi damai di depan kantor gubernur, namun secara tiba-tiba saja kondisi menjadi ricuh yang disebabkan oleh adanya provokator yang ikut dalam rombongan kami.
Dorong-mendorong dengan pihak aparat pun tak bisa dihindari. Akhirnya, aparat mulai bertindak anarkis kepada kami. Salah satu rekan kami terjatuh dan dihadiahi bogem mentah aparat. Rekan-rekan yang lain merasa tidak terima dengan perlakuan petugas dan langsung memukul aparat yang menganiayanya. Aparat lain pun turun tangan menyerang dan memukul mahasiswa dengan tongkat, pentungan, menendang membabi buta. Kami yang tidak berbekal senjata menjadi bulan-bulanan aparat. Kami berhamburan dan membubarkan diri.
Kulihat dari jauh, Erwin terjatuh karena ditendang salah satu aparat. Aku langsung berlari ke arahnya dan mendorong polisi itu hingga terjatuh. Aku tidak mau sahabatku disakiti. Namun dari belakang kurasakan hantaman sepatu dinas lapangan polisi menumbangkan tubuhku. Polisi yang lain pun datang dan mengeroyokku. Aku hanya bisa meringis kesakitan. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan padaku, tapi setelah itu aku tidak bisa bergerak. Sebagian tubuhku memar. Tapi itu kurasakan lebih baik daripada sahabatku sendiri disakiti.
Sungguh, Aku sangat bangga pernah menjadi bagian dari diri Erwin. Kami juga dulu mempunyai idealisme yang sama yaitu “Prestasi dan Organisasi”. Namun dirikulah yang mungkin gagal dan menjadi korban dalam membangun idealisme itu. Aku tidak dapat membangun keseimbangan antara dua hal, yaitu kuliah dan organisasi. Walaupun terselip niat untuk memperbaiki diri, tapi tetap saja sulit untuk kulakukan. Banyak orang yang telah kukhianati terutama orang tua. Mereka banyak menaruh asa pada diriku, namun sebaliknya aku yang menghapus harapan besar orang tuaku.
Sebuah nasihat berarti dari orang tuaku dulu sebelum melepas diriku kuliah di kota bahwa sesibuk apapun jangan meninggalkan shalat dan membaca Al Qur’an. Kujalankan amanah itu baik-baik. Sepadat apapun jadwal kuliah ataupun organisasi aku tidak pernah meninggalkan kewajiban itu. Mungkin hal itu yang membuat diriku kuat dan tegar dalam mengarungi hidup ini. Terlebih, hal itu juga membuat diriku untuk belajar ikhlas menerima keadaan. Aku juga semakin yakin ada rekayasa Allah dalam hidupku.
Walaupun orang lain mengecap diriku sebagai orang yang gagal, tetapi dengan rasa ikhlas dan selalu berjuang dalam hidup aku bisa lebih bersabar. Namun kusadari pula bahwa Islam mengajarkan pentingnya menuntut ilmu! Aku juga tidak mau memisahkan antara agama dan hal-hal lain dalam hidup, semua saling berkaitan.
Mulai tahun keempat ini aku aktif di sebuah LSM yang mengurus tentang pemberdayaan anak jalanan. Tidak ada teman-teman kampus yang tahu bahwa aku mengikuti ini. Banyak hal yang dapat kuambil pelajaran di sini, yaitu masih banyak sekali anak-anak yang tidak seberuntung diriku. Aku merasa iba karena pada saat teman-teman seumur mereka seharusnya menuntut ilmu dan bersekolah, mereka malah mengemis di jalan-jalan. Alhamdulillah sebagian besar anak-anak jalanan itu telah bersekolah dan siap merenda masa depan yang lebih cerah dengan mengenyam pendidikan.
Tampak wajah mereka yang ceria saat ada dermawan yang bersedia membiayakannya sekolah. Mereka pun senantiasa mendoakanku agar sukses. Aku sangat dekat dengan anak-anak jalanan itu. Aku juga sering bercanda dan bersenda gurau serta menumbuhkan semangat belajar bagi mereka Honorku yang tidaklah seberapa dari mengajar les privat, kusisihkan untuk mereka.. Di sela-sela waktu kuliah kosong aku menyempatkan mengajar mereka dasar-dasar membaca dan menulis. Kelasku pun tidak pernah sepi. Pernah ada 70 orang anak jalanan yang mengikuti kelas informal yang kurintis dengan inisiatif pribadi.
Selain mengajarkan membaca dan menulis, aku juga intensif mengajarkan shalat dan mengaji pada mereka. Selain duniawi, urusan akhirat harus kita utamakan! Aku juga mengingatkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Waktu tak pernah berulang, sedikit saja kita menyiakannya, maka kita termasuk orang-orang yang merugi.
Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan Ambillah waktu untuk bermain itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan Ambillah waktu unuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju surga.
Terkadang, aku tak dapat menahan air mata ketika melihat semangat belajar mereka yang luar biasa. Lucunya, mereka lebih memilih belajar bersamaku daripada sekolah formal. Mereka juga banyak yang menangis ketika harus berpisah denganku ketika dijemput oleh orang tua asuhnya. Yah, walaupun tidak mendapat gaji dan bayaran, tapi aku merasa senang bisa sedikit meringankan beban mereka Wajah-wajah polos tanpa beban tetapi penuh dengan antusias dan keinginan untuk lebih baik. “Bang Milu, semoga Allah membalas segala ketulusan abang!” kata salah satu dari mereka ketika dijemput oleh orang tua asuhnya.
Penulis : himi arsad@yahoo.com
annasrei484@gmail.com
Satu Diantara Lima.
Namaku Ipeh, anak keempat dari lima bersaudara yang semuanya perempuan. Usia kami tidak berbeda jauh kecuali adikku yang berbeda usia denganku lima tahun. Kami bersekolah di SD yang sama, dan hampir semua guru mengetahui kami karena wajar kami juga mirip.
Kak Dian merupakan anak tertua yang memiliki sifat tomboi dengan prestasi yang cukup memuaskan di dunia olahraga saat ini sudah menikah. Kak Nora anak kedua yang memiliki wajah cantik dan berkuliah di Aceh yang merupakan kampung halamanku. Diantara lima anak Waled dan Umi hanya Kak Nora yang memiliki rambut lurus sedangkan yang lainnya keriting menjurus ke kribo mengikuti gen waled.
Kak Lisa tidak begitu pintar namun anaknya pandai bergaul dan selalu saja beruntung, dia sudah pernah ke luar negeri padahal untuk keluarga seperti kami itu tidaklah mungkin. Mala anak bungsu yang manja. Hampir semua saudaraku pandai di bidang olahraga. Pernah Waled membeli tenis meja, dan hanya aku yang tidak pandai bermain. Sebenarnya aku ingin mencoba namun aku takut untuk ditertawakan.
Saat disekolah dasar dan sekolah menengah pertama aku selalu dibandingkan dengan saudara-saudaraku terutama dengan Kak Nora yang memiliki paras yang cantik dan otak yang cerdas. Aku menjadi orang yang pendiam di rumah dan jarang berada di rumah.
Saat SMP aku mengikuti banyak aktivitas untuk mengurangi waktuku di rumah, dan alhamdulillah aku bertemu dengan teman-teman yang hingga aku kuliah aku masih bersahabat dengan mereka. Saat tamat SMA kami memilih jurusan yang sesuai dengan minat kami masing-masing. Diantara teman-temanku, akulah yang paling bodoh.
Oleh karena itu pilihan SPMB-ku tidak terlalu tinggi dan hanya di dalam kota. Lani masuk ke Psikologi, Rida Kedokteran, Eka mendapat beasiswa ke Jepang, Vivie Kedokteran di Riau, sedangkan aku lulus di pilihan kedua yaitu Kehutanan karena tidak lulus pilihan pertama di Ekonomi dan pilihan ketigaku Ekonomi di Aceh.
Saat semua orang senang lulus SPMB, aku hanya menangis di kamar. Aku menyesal mengambil jurusan ini dan mengapa harus lulus di kehutanan. Jurusan Kehutanan bukan termasuk jurusan favorit jadi aku malu, alasan orangtua jurusan kehutanan baru buka dan lulusannya sedikit jadi kemungkinan lapangan kerjanya lebih besar.
Kakak-kakakku saja lulus kedokteran, hukum dan ekonomi. Mahasiswa yang lulus di kampusku adalah kebanyakan mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah, untuk yang berasal dari sekolahku hanya aku dan seorang laki-laki. Semester satu aku malas berkuliah namun indeks prestasiku (IP) tidak jelek amat, masih di atas 3. Aktivitasku setelah pulang kuliah tidak ada dan aku pun sibuk dengan teman-teman SMA-ku.
Semester 2 pacarku memutuskan aku tanpa alasan yang jelas. Padahal sudah 3 tahun kami menjalin hubungan, mungkin karena jarak yang memisahkan kami.
Aku sangat sakit hati, dan itulah awal keterpurukkanku. Kini tidak ada yang membuatku semangat untuk kuliah, teman-teman SMA-ku mulai sibuk dengan aktivitas kampus masing-masing, Lani yang sibuk kegiatan kepanitiaan dan organisasi, Rida dengan aktivitas sunatan massal, vivie dengan kegiatan kerohanian. Aku sangat kesepian dan pergi ke rumah Lani tapi dia tidak dirumah. jadi aku menunggu di teras rumahnya, dan kejadian ini sudah biasa aku alami. Mama Lani datang menemaniku dan bertanya :
“Peh, bagaimana kuliahnya?”.
“Alhamdulillah baik, Tante”, jawabku sambil meminum air yang sajikannya.
“Siapa saja teman Ipeh di kampus?”
“Engga ada Tan. Ipeh malas berteman dengan mereka, Ipeh ngerasa engga cocok”.
“Iya sih, apalagi kalian sudah berteman semenjak SMP bahkan dengan Lani semenjak SD kan. Peh, kamu tidak bisa bersama teman SMA atau pacarmu saja. Lani, Rida, Vivie, dan Eka tidak bisa selamanya menemani kamu. Nanti siapa yang akan membantu kamu. Mulailah berteman dengan teman kuliahmu”.
Selama menunggu kepulangan Lani, aku pun berpikir. Betul juga apa yang tante bilang, sepertinya aku harus membuka diri dan memulai hidup baru dengan menutup kesedihanku atas kandasnya hubungan asmaraku. Di kampus, saat aku di kamar mandi aku mendengar percakapan temanku.
“Aku pikir si Ipeh orangnya pintar, ternyata masih pintaran aku”.
“Iya, padahal dia berasal dari SMA favorit. Ternyata tidak menjamin juga”.
Saat aku keluar teman-temanku terdiam dan aku pun pergi. Aku duduk di taman perpustakaan. Aku tidak bisa seperti ini, aku tidak bodoh-bodoh amat, buktinya aku bisa sekolah di SMP dan SMA favorit. Aku paling tidak suka diremehkan, mulai saat ini aku akan menjadi Ipeh yang berbeda. Aku ingin membuktikan kalau aku juga bisa dapat nilai yang tinggi dan prestasi lainnya………………………..
Penulis : hilmi arsad@yahoo.com
annasrei484@gmail.com
Kak Dian merupakan anak tertua yang memiliki sifat tomboi dengan prestasi yang cukup memuaskan di dunia olahraga saat ini sudah menikah. Kak Nora anak kedua yang memiliki wajah cantik dan berkuliah di Aceh yang merupakan kampung halamanku. Diantara lima anak Waled dan Umi hanya Kak Nora yang memiliki rambut lurus sedangkan yang lainnya keriting menjurus ke kribo mengikuti gen waled.
Kak Lisa tidak begitu pintar namun anaknya pandai bergaul dan selalu saja beruntung, dia sudah pernah ke luar negeri padahal untuk keluarga seperti kami itu tidaklah mungkin. Mala anak bungsu yang manja. Hampir semua saudaraku pandai di bidang olahraga. Pernah Waled membeli tenis meja, dan hanya aku yang tidak pandai bermain. Sebenarnya aku ingin mencoba namun aku takut untuk ditertawakan.
Saat disekolah dasar dan sekolah menengah pertama aku selalu dibandingkan dengan saudara-saudaraku terutama dengan Kak Nora yang memiliki paras yang cantik dan otak yang cerdas. Aku menjadi orang yang pendiam di rumah dan jarang berada di rumah.
Saat SMP aku mengikuti banyak aktivitas untuk mengurangi waktuku di rumah, dan alhamdulillah aku bertemu dengan teman-teman yang hingga aku kuliah aku masih bersahabat dengan mereka. Saat tamat SMA kami memilih jurusan yang sesuai dengan minat kami masing-masing. Diantara teman-temanku, akulah yang paling bodoh.
Oleh karena itu pilihan SPMB-ku tidak terlalu tinggi dan hanya di dalam kota. Lani masuk ke Psikologi, Rida Kedokteran, Eka mendapat beasiswa ke Jepang, Vivie Kedokteran di Riau, sedangkan aku lulus di pilihan kedua yaitu Kehutanan karena tidak lulus pilihan pertama di Ekonomi dan pilihan ketigaku Ekonomi di Aceh.
Saat semua orang senang lulus SPMB, aku hanya menangis di kamar. Aku menyesal mengambil jurusan ini dan mengapa harus lulus di kehutanan. Jurusan Kehutanan bukan termasuk jurusan favorit jadi aku malu, alasan orangtua jurusan kehutanan baru buka dan lulusannya sedikit jadi kemungkinan lapangan kerjanya lebih besar.
Kakak-kakakku saja lulus kedokteran, hukum dan ekonomi. Mahasiswa yang lulus di kampusku adalah kebanyakan mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah, untuk yang berasal dari sekolahku hanya aku dan seorang laki-laki. Semester satu aku malas berkuliah namun indeks prestasiku (IP) tidak jelek amat, masih di atas 3. Aktivitasku setelah pulang kuliah tidak ada dan aku pun sibuk dengan teman-teman SMA-ku.
Semester 2 pacarku memutuskan aku tanpa alasan yang jelas. Padahal sudah 3 tahun kami menjalin hubungan, mungkin karena jarak yang memisahkan kami.
Aku sangat sakit hati, dan itulah awal keterpurukkanku. Kini tidak ada yang membuatku semangat untuk kuliah, teman-teman SMA-ku mulai sibuk dengan aktivitas kampus masing-masing, Lani yang sibuk kegiatan kepanitiaan dan organisasi, Rida dengan aktivitas sunatan massal, vivie dengan kegiatan kerohanian. Aku sangat kesepian dan pergi ke rumah Lani tapi dia tidak dirumah. jadi aku menunggu di teras rumahnya, dan kejadian ini sudah biasa aku alami. Mama Lani datang menemaniku dan bertanya :
“Peh, bagaimana kuliahnya?”.
“Alhamdulillah baik, Tante”, jawabku sambil meminum air yang sajikannya.
“Siapa saja teman Ipeh di kampus?”
“Engga ada Tan. Ipeh malas berteman dengan mereka, Ipeh ngerasa engga cocok”.
“Iya sih, apalagi kalian sudah berteman semenjak SMP bahkan dengan Lani semenjak SD kan. Peh, kamu tidak bisa bersama teman SMA atau pacarmu saja. Lani, Rida, Vivie, dan Eka tidak bisa selamanya menemani kamu. Nanti siapa yang akan membantu kamu. Mulailah berteman dengan teman kuliahmu”.
Selama menunggu kepulangan Lani, aku pun berpikir. Betul juga apa yang tante bilang, sepertinya aku harus membuka diri dan memulai hidup baru dengan menutup kesedihanku atas kandasnya hubungan asmaraku. Di kampus, saat aku di kamar mandi aku mendengar percakapan temanku.
“Aku pikir si Ipeh orangnya pintar, ternyata masih pintaran aku”.
“Iya, padahal dia berasal dari SMA favorit. Ternyata tidak menjamin juga”.
Saat aku keluar teman-temanku terdiam dan aku pun pergi. Aku duduk di taman perpustakaan. Aku tidak bisa seperti ini, aku tidak bodoh-bodoh amat, buktinya aku bisa sekolah di SMP dan SMA favorit. Aku paling tidak suka diremehkan, mulai saat ini aku akan menjadi Ipeh yang berbeda. Aku ingin membuktikan kalau aku juga bisa dapat nilai yang tinggi dan prestasi lainnya………………………..
Penulis : hilmi arsad@yahoo.com
annasrei484@gmail.com
Langganan:
Postingan (Atom)

