Rabu, 21 April 2010

Cerita Sedih | Kisah Sedih di Bulan Ramadhan.

Sun, 17 Oct 2004 16:21:20 -0700
Assalamualaikum.Wr.Wb.

Kisah sedih di bulan Ramadhan.

Laahaulaa, walaaquwwata illaabillahil aliyyil adzim.
Innalillahi wainnaailaihi raaji'un.
Aku tak tahu dari mana jari jemariku ini harus
dimulai. Kemana pikiran dan kaki melangkah. Kemana
pergi selalu yang menjadi bahan pembicaraan
manusia-manusia di Kairo, baik itu masyarakat
Indonesia, Mesir, Malaysia, apalagi Indonesia, tentang
suatu kejadian yang amat sangat disayangkan.

Tetapi itu sudah menjadi takdir dan kuasa Allah, siapa
dapat menebak, dan menduga isi hati manusia, apa yang
akan terjadi esok kelak pada kita. Hanya Allah yang
maha tahu.

Mungkin diantara pembaca milist sekalian , sudah baca
berita di surat kabar tertanggal 19 oktober ( Kompas
dan Republika ). Semua kejadian yang diberitakan itu
benar adanya, dan itu adalah versi surat kabar.

Ingin saya menyampaikan rasa keprihatinan hati ini,
disaat-saat bulan ramadhan, selalu saja ada kejadian
di Kairo bagi masyarakat Indonesia di Mesir ini.

Malam itu,..suami saya cerita pada saya : " Ma..ima
tahu ngak ada kejadian di Kairo ? ". Kejadian apa itu
da,..ima ngak tahu, sudah berapa hari ini kepala ima
sakit lagi, pusing, dan sesak nafas penyakit lama
kambuh lagi, jadi ngak tahu berita apa-apa ? ".

" Itu,..ada orang Malaysia, satu keluarga mati kebakar
di rumahnya ".
" Hah..napa, siapa yang lakukan itu, ? " tanyaku pada
suami. " Belum ketahuan. ", jawab suamiku lagi.

" Ih..tega amat yah, kalau itu dilakukan orang, atau
kebakaran sendiri, akibat kelalaian barang kali ? ".
Timpalku pada suami.

" Enggak, memang pembunuhan, ada bercak-bercak darah
di sekeliling rumah itu ".

 Merinding bulu kudukku mendengarnya, ternyata Mesir
sudah mulai kagak aman. Aku menduga orang Mesir
pelakunya.

Kemudian suamiku bilang : " Ima,..ima ingat ngak,
tahun kemaren ada kejadian kebakaran dirumah si A ". (
yang ternyata si A ini adalah pelaku pembunuhan itu
saat ini, setelah besoknya diketahui public ).

" Iyah,..Tahun kemaren rumah si A kebakaran, akibat
kelalaian anaknya yang main api, jadi terbakar
rumahnya ", Kujawab lagi.

Keesokan malam harinya, karena aku belum bisa ke
mesjid, masih pusing juga, hanya suami dan anak-anak
yang ke mesjid .

Sepulang  dari mesjid, suamiku cerita lagi : "
Ma..tahu ngak, siapa pelaku pembunuhan tersebut ?". "
kagak , jawabku ".

" itu ..orang Indonesia, dan orang yang sangat dekat
lagi dengan kita ".

" Apa….si A..? langsung kutebak, padahal yang dekat
dengan kami di Kairo itu cukup banyak, tetapi entah
mengapa, tebakanku langsung ke si A, dan memang tepat
sekali, jawab suamiku.

Kenapa saya sampai menebak si A, ? " Uda..tiga minggu
yang lalu, ketika terakhir kita makan di rumah
makannya itu, ima melihat dimata dan sikapnya ada
kelainan, entahlah mengapa perasaan ima mengatakan ada
yang ngak beres dengan orang ini ".

" Uda lihat biasa-biasa saja, orangnya tetap baik, dan
ramah ".
" Iyah, memang orangnya baik, tetapi entah mengapa
hati ima merasakan lain ketika itu, lihat sikapnya
agak ganjil, betapa kasihannya anak – anak dan
istrinya itu, begitulah, sayang sekali, kalau lelaki
hanya memilih wanita dari segi kecantikannya saja,
sehingga betapa seringnya lelaki yang tunduk dan patuh
atas permintaan material dari istrinya, dan sang
istripun mengapa ngak menyadari akan kondisi ekonomi ,
social suaminya kayak apa, minta juga permintaan
melebihi kapasitas kemampuan suami, itu
akibatnya,.sang suami jadi terpaksa mencari nafkah
kesana kemari, sampai ngak tahu lagi mana halal, mana
haram, mana salah, mana benar, ngak bisa dibedakan
lagi,  yang penting kebutuhan istri dan anak-anak
terpenuhi, ima ngak suka lelaki lemah semacam itu ".
Saya sampaikan semua ini pada suamiku.

" Iyah,..kata suamiku, tapi uda ngak nyangka sama
sekali, kalau senekad itu si A melakukan semua itu,
apa tidak dipikirkannya bagaimana nasib anak-anaknya
kelak ".

" Tapi da,.kita harus lihat dan jelas dulu duduk
persoalannya, kenapa sampai si A melakukan hal itu,
dan kenapa, si A, sampai datang kerumah si korban, dan
ngapaian, ada perlu apa, dan pisau itu dibawa oleh si
A, atau si korban yang ambil pisau dari dapur, lantas
si A karena sudah di paksa berantam begitu, akhirnya
naik pitam dan syetan masuk kedirinya, untuk membela
diri, maka terjadilah pertengkaran, karena si korban
kalah, maka terbunuhlah ia, kalau saja si A yang
kalah, tentu si A pula yang terbunuh, si korban yang
menjadi pembunuh ".

" Iyah,..timpal suamiku, tetapi mengapa sampai ia
membakar rumah itu ? "
" Iyah,.itu kesalahan yang amat fatal, coba saja,
disaat tikaman pertama oleh si A, kan belum tentu
mati, cepat aja dibawa ke dokter, ngaku, kan
hukumannya ngak seberat itu, bisa diobati, ini kenapa
sampai tiga tikaman di tubuh korban, berarti syetan
sudah merasuk betul ke dadanya, dan ia memang sengaja
membunuhnya ? ". kujawab lagi.

"Itulah kata suamiku, kita lihat saja bagaimana
kelanjutannya besok, karena si A belum dapat di temui,
jadi belum didengar langsung berita darinya ".
Malam itu, suamiku sulit tidur, aku bisa mengerti,
bahkan ngak biasanya akhir-akhir semenjak aku hamil
dan melahirkan anak terakhir kami, suamiku benar-benar
memeluk erat badanku tatkala tidur, sampai pagi hari,
badannya lemas sekali, aku kasihan, dan aku sangat
mengerti bagaimana perasaannya malam itu mengetahui
ternyata pelaku pembunuhan empat orang sekaligus di
Mesir itu, dilakukan oleh orang yang dekat dengannya.
Sampai sahurpun masih itu juga yang di ingat dan
disebut-sebutnya.

Keesokan harinya ( hari ini ) , meski kepalaku masih
pusing sekali, tetapi terpaksa aku keluar rumah juga,
karena ada kerja beres-beras di kedutaan, di dharma
wanita, berhubung aku pengurus, hatiku ngak enak,
kalau ngak ikut kerja beres-beres itu. Suamiku sudah
melarang  agar aku istirahat aja di rumah, tetapi
kusampaikan, bahwa aku merasa ngak enak, kalau ngak
kerja, masak orang lain saj ayang kerja, sementara aku
enak-enak di rumah, padahal sama-sama pengurus.

" yah udah,.ngak papa, suamiku bilang, siap-siap aja
ke kantor ". Saya dan suami barengan kekantornya,
namun beliau menyetir mobil sedikit lambat dari
biasanya kulihat. Mungkin pikirannya masih kacau kali.

Sampai di kantor itu saja yang menjadi bahan
pembicaraan orang, tetapi aku ngak mau ikut nimbrung
banyak, ngeri juga puasa-puasa, khawatir masuk kepada 
ghibah, meski aku tahu dalam hal ini, orang hanya
berbiacara seputar kejadian itu saja, tidak lebih dari
itu, tapi khawatir saja, kalau keterlaluan, sampai
membicarakan hal-hal yang dilarang. Pembicaraan kami
hanya seputar, hukuman apa yang akan diterimanya,
bagaimana dengan hokum di mesir, di Malaysia, dan
Indonesia sendiri.

" Kalau di Mesir, hukuman mati, Malaysia juga hukuman
mati, kalau Indonesia, bagaimana da ?,..tanyaku pada
suamiku.

Suamiku jawab : " kalau di Indonesia, tergantung tas
apa yang dibawa, kalau tasnya penuh dengan duit, maka
bebaslah ia, kalau tas kosong doank yang dibawa, maka
dihukumlah ia ". ( hehehe..aku jadi katawa, dengar
jawaban suamiku, padahal aku nanyanya serius lagi , ia
jawabnya canda, tapi ada benarnya juga dengan realita
di Indo kali ).

Selesai kerja, aku pulang lebih dulu dari suamiku,
sementara suamiku masih ada pekerjaan menterjemahkan
berita yang di tulis oleh surat kabar mesir ke bahasa
Indonesia, untuk di kirim ke Indonesia, akan berita
kejadian tersebut , sampai beliau pulang dekat isya ".

Sampai di rumah, aku dapat berita dari beliau, bahwa
kejadiannya begini :

" Si A malam khamisnya menelpon ke rumah korban orang
Malaysia itu, bahwa ia butuh duit pound, dan mau tukar
dengan dollar seharga sekitar 16.00 US$ ( enam belas
ribu dollar Amerika ).

Lantas orang Malaysia itu bilang, " silahkan datang
kerumah ".
Datanglah si A ke rumah korban tersebut. Kemudian si
korban bilang, " mana duit dollarnya. ?,"  ada di
mobil ", jawab si A.
Tapi pada akhirnya si A bilang ke si korban, : "
Sebenarnya kau butuh duit, dan ingin menipu kamu,
tetapi melihat kamu dan anak-anak serta istrimu ngak
jadi aku menipumu, aku kasihan, jadi aku tukar saja
duit US$ 200 ". Istriku butuh duit pound sekitar US$
200, untuk buka usaha.

Si Korban langsung marah-marah, bahkan menghina dan
mengeluarkan kata-kata kasar seperti menyebut maaf ,
kemaluan ibunya. Tentu si A marah dan naik pitam,
serta emosi mendengar kata-kata orang Malaysia itu.
Akhirnya terjadilah pertengkaran sengit, dan si korban
ambil pisau dari dapur, sehingga melukai tangan dan
paha si A.

Pada akhirnya pisau jatuh ketangan si A, dan
terbunuhlah si korban. Si A sempat menggendong teman
nya itu, dan mengatakan : " kenapa sampai begini
jadinya, bukankah kita teman dekat dan teman baik
selama ini, mengapa sampai begini jadinya ? ".

Sang istri korban keluar dari kamar dan memukul-mukul
badan si A dari belakang, lantas dikarenakan si A
sedang memegang pisau, dan mengelak dari pukulan
tersebut, maka terkenalah leher istri sang korban,
mati seketika juga ia.

Lantas karena kalut, si A, menyeret dua korban kekamar
dan membakar kamar itu, dengan kain, dengan niat untuk
menghilangkan jejak pembunuhan tersebut. Tapi pada
akhirnya kedua anak korban juga ikut kebakar.

Selepas di bunuh dan dibakar, lantas ia pergi ke rumah
sakit untuk mengobati luka di tangan dan pahanya yang
sempat di operasi juga. Ternyata sesampai dirumah
polisi telah menunggu ia, dan si A langsung mengaku
memang saya membunuhnya, dan membakar kamar itu.

Begitulah kejadian sebenarnya, lantas bagaimana
hukuman padanya, wallhua'lam, kita semua di Kairo
sedang menunggu-nunggu keputusan mahkamah, tapi pihak
kedutaan sudah berusaha meminta agar diberi hukuman
yang seringan-ringannya. Wallha'lam apa yang terjadi
kelak.Ini sekilas informasi di Kairo di bulan
Ramadhan.

Wassalam. Rahima ( 35 thn )

0 komentar:

Poskan Komentar